Pamekasan, BULETIN.CO.ID – Total Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG Kabupaten Pamekasan, Madura saat telah mencapai 68. Namun dari jumlah tersebut masih belum sepenuhnya beroperasi.
Berdasarkan data yang diperoleh, dari total 68 SPPG, yang beroperasi yaitu hanya 40 dan 1 SPPG dinyatakan dinonaktifkan sementara oleh BGN pusat imbas dari Keracunan massal beberapa waktu lalu.
Dari 40 SPPG yang beroperasi hanya 27 SPPG yang melakukan proses pengajuan SLHS ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pamekasan, dari 27 telah terbit dan mengantongi Sertifikat Laik Higien dan Sanitasi (SLHS) 7 SPPG.
Sedangkan sisanya 13 SPPG masih belum terdaftar di Dinkes Kabupaten Pamekasan untuk melakukan proses pengajuan SLHS.
Kadinkes Kabupaten Pamekasan, melalui Kabid Kesmas, Ach. Syamlan mengatakan bahwa pasca maraknya kejadian keracunan di beberapa kabupaten seluruh Indonesia, semua SPPG diwajibkan memiliki SLHS.
“BGN sekarang mewajibkan SPPG baik yang sudah beroperasi atau belum itu wajib mengajukan SLHS, kalau dulu tidak. Kalau tidak salah dikasih waktu hingga bulan Oktober SPPG harus punya SLHS, ” jelas Syamlan. Kamis (02/10/205).
Adapun persyaratan untuk mendapatkan SLHS kata Syamlan yaitu Hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKP) dari SPPG MINIMAL 80.
Kedua telah dilakukan minimal 50℅ penjamah makanan SPPG, ketiga telah dilakukan uji sampel makanan dan air (pemeriksaan bakteriologis dan kimia).
“Jika point 1 sampai 3 memenuhi syarat, tidak ada temuan bakteri maka akan diterbitkan SLHS,” imbuhnya.
Sebelumnya, diberitakan terdapat beberapa kejadian keracunan terhadap siswa usai menyantap menu MBG dari SPPG Tlanakan. Serta juga terdapat temuan hewan ulat belatung pada makanan di SMA Negeri 3 Pamekasan yang disajikan oleh yayasan SPPG almuna.
Atas kejadian tersebut, tim Dinkes Pamekasan mengirimkan sampel makanan dari SPPG Tlanakan untuk diuji di laboratorium Surabaya.
Hasil dari laboratorium ternyata pemicu dari keracunan massal pada sampel makanan terkontaminasi bakteri akibat proses penyediaan yang tidak higienis, mulai dari penyiapan bahan, pengolahan, hingga pengemasan.
Atas beberapa peristiwa tersebut membuat resah para orang tua dan siswa khususnya siswa Paud dan SD di Pamekasan, terutama di pelosok desa.
Sementara koordinator BGN Pamekasan, Hariyanto masih tetap bungkam saat dihubungi oleh wartawan media ini hingga berita ini terbit.













