Bondowoso, BULETIN.CO.ID – Ratusan pekerja PTPN I Regional 5 menggelar aksi damai di depan Kantor Bupati Bondowoso, Selasa (6/1/2026). Aksi yang mengatasnamakan Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara (SPBUN) PTPN XII itu dipicu krisis keamanan yang terus membayangi aktivitas kerja di Desa Kaligedang, Kecamatan Ijen.
Para pekerja menuntut jaminan rasa aman saat bekerja di areal perkebunan yang belakangan disebut kerap terjadi aksi persekusi dan perusakan tanaman oleh orang tak dikenal (OTK). Mereka mendesak Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bondowoso tidak sekadar berjanji, tetapi bertindak tegas agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Sejumlah perwakilan massa kemudian diterima Forkopimda Bondowoso untuk melakukan audiensi di Ruang Sabha Bina Praja.
Dalam pertemuan tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Bondowoso, Fathur Rozi, menyatakan pemerintah daerah memiliki komitmen yang sama dengan para pekerja dalam menciptakan rasa aman dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah Kecamatan Ijen.
“Bondowoso ini kita sama-sama ingin mensejahterakan masyarakat,” ujar Fathur Rozi.
Ia mengakui bahwa penyampaian aspirasi secara lisan hanyalah langkah awal. Menurutnya, yang paling dibutuhkan pekerja saat ini adalah tindakan nyata dari pemerintah dan aparat penegak hukum. Aspirasi tersebut, kata dia, akan menjadi komitmen pemerintah daerah untuk ditindaklanjuti melalui penegakan hukum serta perlindungan hukum dan sosial bagi para pekerja perkebunan.
“Harapannya ada penegakan hukum, ada perlindungan hukum dan perlindungan sosial agar para pekerja merasa aman dan nyaman dalam bekerja,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Sekretariat Perusahaan dan Umum PTPN I Regional 5, R.I. Setiyobudi, menyampaikan bahwa manajemen menghargai Aksi Damai yang dilakukan SPBUN PTPN XII. Menurutnya, aksi tersebut merupakan bentuk empati terhadap pekerja kebun kopi di Ijen yang juga merupakan bagian dari masyarakat setempat.
Ia menyebut, saat ini para pekerja berada dalam kondisi tidak nyaman akibat dugaan persekusi oleh OTK yang mengganggu aktivitas kerja di lapangan.
“Aksi ini juga menjadi bentuk dukungan moral kepada Pemerintah Daerah dan Aparat Penegak Hukum dalam upaya penegakan hukum, sekaligus menjaga citra Bondowoso sebagai Republik Kopi,” pungkasnya.(Nang)














