Scroll untuk baca artikel
Opini

Ketika Sabda Guru Mengalahkan Nabi

×

Ketika Sabda Guru Mengalahkan Nabi

Sebarkan artikel ini
KH, A.Nawawi Maksum, Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa Bondowoso

Sore itu, layar ponsel bernyala, memantulkan deretan notifikasi yang riuh. Di sebuah grup percakapan majelis, jari-jari bergerak cepat membolak-balik perdebatan yang kian panas. Seorang kiai sepuh, yang selama ini diletakkan di singgasana hormat, baru saja melontarkan kalimat tajam menyindir ulama lain.

Alih-alih merenung, para pengikut setianya menyambut dengan sorak sorai digital. Jemari mereka menari di atas tombol komentar, meluncurkan cibiran, merundung tanpa sisa, bahkan dengan entengnya mengetikkan vonis sesat dan kafir.

Kita sering tertegun. Ada sesuatu yang janggal dan menyesakkan dada. Sabda Nabi Muhammad SAW—yang diwariskan dengan segenap kasih dan kedamaian—kerap kali ditimbang-timbang dengan ekstra hati-hati, diuji validitasnya dalam kitab-kitab hadis, bahkan diperdebatkan panjang lebar oleh para ulama. Namun, ucapan sang kiai ditelan mentah-mentah. Ia menjelma sabda agung yang haram disentuh kritik. Ada rasa takut yang samar, semacam cemas akan kualat atau kutukan mistis jika berani berbeda jalan.

Di sinilah ironi itu berkelindan. Manusia sering kali lebih mudah takut kepada murka manusia yang diagungkan ketimbang menguji nalar di hadapan kebenaran yang lebih luas.

Lantas, dari mana akar kepatuhan buta ini bermula? Sebagai seseorang yang hingga detik ini merupakan pembaca, pecinta, bahkan pengajar kitab Ta’lim Muta’allim di pesantren sendiri, saya tahu persis nilai yang terkandung di dalamnya. Di dalam risalah mahakarya Syekh Al-Zarnuji tersebut, adab terhadap guru memang diletakkan di tempat yang sangat mulia. Kitab itu adalah panduan emas pembentukan karakter seorang penuntut ilmu.

Namun, persoalannya bukan pada kitabnya, melainkan pada bagaimana teks itu kerap mengalami salah kaprah yang masif di tangan sebagian orang. Hormat dan tawaduk kepada guru diartikan secara ekstrem sebagai larangan mutlak untuk membantah, apalagi mengkritik, seolah sang guru adalah manusia suci yang kebal dari kesalahan.

Lebih runyam lagi, ada kalanya teks-teks klasik tersebut justru disalahgunakan oleh sebagian oknum untuk melanggengkan kekuasaan personal, membunuh nalar kritis, dan merawat kultus kelompok demi kepentingan ego semata. Padahal, dunia pesantren yang otentik sejatinya juga mengajarkan tradisi bahtsul masail—sebuah ruang dialektika dan bedah masalah yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir secara ilmiah.

Kita sedang menyaksikan sebuah musim di mana takzim berubah wajah menjadi kultus. Orang-orang berilmu mendadak memiliki pengikut yang tidak hanya memuja, tetapi juga menjelma menjadi algojo moral.

Mereka siap mencela, merundung, hingga menghukum siapa saja yang tidak segaris dengan alur pikir sang guru. Dan yang paling menyedihkan, para kiai yang dipuja itu kerap memilih bungkam, membiarkan para pemujanya merusak bangunan ukhuwah demi merawat sebuah keakuan kelompok.

Jika kita menengok cermin agama, pemandangan ini tentu asing. Islam lahir bukan untuk membekukan akal, melainkan memerdekakannya. Sebagaimana teladan para ulama besar yang selalu membentangkan ruang dialog dan menolak taklid buta, Imam Malik pernah berpesan dengan rendah hati bahwa setiap perkataan manusia bisa diterima atau ditolak, kecuali ucapan Nabi.

Ketika ucapan manusia diagungkan secara mutlak, sementara sabda Nabi dicurigai dengan dalih sempit, di situlah akal sehat bergeser dari tempatnya.

Dari jendela sosial-politik, gejala ini menghadirkan tirani baru di tingkat akar rumput. Demokrasi dan kebebasan berpikir mati perlahan di tangan massa yang tersetir oleh fanatisme. Ruang publik yang semestinya menjadi taman sari pertukaran gagasan justru berubah menjadi gelanggang persekusi digital. Perbedaan pandangan diburu bagaikan musuh negara.

Sementara di ruang kebudayaan, kita melihat betapa mentalitas feodal belum sepenuhnya tanggal dari jubah zaman kita. Budaya patron-kleien yang menempatkan figur di puncak piramida membuat orang malas melakukan tabayyun. Lebih nyaman menjadi penonton yang ikut berteriak di kerumunan daripada berpikir jernih sendirian.

Agama hadir untuk merajut kemanusiaan, bukan menjahit tirai perpecahan. Mencintai guru tidak menuntut kita untuk menutup mata pada kebenaran objektif, dan menghormati ulama tidak pernah berarti membiarkan diri menjadi pembenci yang gemar menebar sesat.

Sudah saatnya kita menghidupkan kembali tradisi tabayyun di ruang-ruang majelis, merawat nalar kritis yang santun, serta mendidik umat bahwa takzim terbaik kepada seorang guru adalah dengan meneruskan warisan ilmunya yang mencerahkan, bukan dengan memenjarakan akal sehat dalam sangkar fanatisme buta.

Sebab kebenaran, pada hakikatnya, tidak pernah butuh dibela dengan caci maki.

Ditulis oleh

~ A. Nawawi Maksum ~

( Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso )

**) IIkuti berita terbaru BULETIN.CO.ID di Google News klik disini dan jangan lupa di follow.
banner 400x130