Scroll untuk baca artikel
Opini

Ketika Ketua NU Menyeberang Pagar

×

Ketika Ketua NU Menyeberang Pagar

Sebarkan artikel ini

Di Bondowoso, ingatan sering kali dipelihara oleh pagar-pagar. Pagar masjid, pagar surau, pagar sarung hijau, pagar baju putih berkerah. Kita hidup terlalu lama dalam sekat-sekat itu, merawat prasangka seolah ia warisan leluhur yang paling suci.

Bahkan ketika pucuk kepemimpinan Nahdlatul Ulama di tanah ini membeku dalam waktu yang panjang—tanpa geser, tanpa gerak, berjalan monoton dalam siklus yang sama selama lebih dari dua dekade seakan angin malas bertiup di Tapal Kuda—kita sempat mengiranya takdir yang tak bisa ditolak. Tembok-tembok birokrasi meninggi, dingin, dan kaku, memisahkan kita dalam bilik-bilik eksklusivitas yang sunyi.

Lalu, sebuah kabar baik beredar melintasi dinding-dinding waktu. Tanggal 18 Oktober 2026 mendatang, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo, angin Ahad bersiap membawa sesuatu yang nyaris muskil bagi mata yang terbiasa curiga: seorang Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama yang baru akan berdiri di mimbar persyarikatan, menyampaikan pengajian dengan senyum yang tenang.

Sejarah, rupanya, tidak pernah ditulis oleh mereka yang gemar merawat kemapanan dan kejenuhan. Sejarah selalu digerakkan oleh keberanian untuk menyeberang.

Dr. KH. Moh. Syaeful Bahar, yang akrab dipanggil Cak Bahar, mengubah cara kita memandang arti sebuah singgasana setelah sekian lama terkunci dalam kebekuan nama yang itu-itu saja. Menjadi pemimpin hari ini bukan lagi soal duduk diam di atas takhta yang dikelilingi sanjungan masa lalu, melainkan keberanian membuka pintu yang lama macet oleh karat ketidakpercayaan.

Ketika ia melangkah ke ruang-ruang yang selama ini dianggap “milik pihak sebelah”, ia sama sekali tidak sedang menanggalkan jubah ke-NU-annya. Ia justru sedang merayakan Islam yang jauh lebih lapang—sebuah rumah besar yang melampaui batas-batas administratif perkumpulan.

Berdiri di hadapan jamaah Muhammadiyah membawakan tema tentang merawat Indonesia dan menjaga agama dari ancaman radikalisme, ia mengingatkan kita pada intisari ajaran para pendiri bangsa: bahwa perbedaan dalam cabang ibadah dan cara pandang tidak pernah diciptakan untuk saling membinasakan, melainkan untuk menguji seberapa luas dada kita menampung kasih sayang.

Bagi orang kebanyakan—mereka di akar rumput yang sering lelah melihat para elite berebut benar di panggung-panggung retorika—pemandangan yang segera hadir itu adalah air penyejuk yang lama dinanti. NU dan Muhammadiyah tidak lagi berjalan saling memunggungi. Mereka duduk dalam satu majelis, mendengar dengan takzim, menertawakan hal-hal kecil yang selama ini dipertengkarkan oleh mereka yang kurang piknik.

Sebab, jika kita mau menengok lebih jauh ke dalam lembaran sosiologi masyarakat kita, perjumpaan ini bukan sekadar silaturahim seremonial. Ia adalah sebuah jawaban atas kerinduan kultural yang sudah lama mengendap di bumi Tapal Kuda.

Di tanah yang santun dengan budaya sopo aruh-nya, masyarakat kita mendambakan harmoni. Ketika seorang pemimpin NU datang dengan kerendahan hati ke forum Muhammadiyah, sesungguhnya ia sedang mengirimkan pesan sunyi namun benderang: bahwa di atas segala perbedaan ijtihad, ada kemaslahatan umat dan masa depan bangsa yang jauh lebih agung untuk dijaga bersama.

Persatuan, memang tidak pernah lahir dari keseragaman yang dipaksakan. Ia lahir dari kelapangan dada untuk saling mendengarkan dan mengerti. Di bawah langit Bondowoso yang tenang, fajar kecil itu kini menyingsing, membisikkan satu kebenaran sederhana yang sering telat kita sadari: bahwa tembok setinggi dua dekade sekalipun pasti akan runtuh di hadapan tangan-tangan yang ikhlas merajut sapa.

Dan di sanalah, masa depan umat beragama di negeri ini menemukan kembali degup jantungnya yang paling jujur.

~ A. Nawawi Maksum ~
( Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso )

**) IIkuti berita terbaru BULETIN.CO.ID di Google News klik disini dan jangan lupa di follow.
banner 400x130