Bondowoso, BULETIN.CO.ID – Pembangunan infrastruktur jalan di jalur Margahayu–Curah Macan hingga kawasan objek wisata Kawah Wurung, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, menuai keluhan warga. Proyek perbaikan jalan yang menjadi akses vital masyarakat, jalur wisata, sekaligus jalur operasional PT Medco Cahaya Geothermal (MCG) itu dilaporkan terhenti hampir satu bulan tanpa kejelasan yang diketahui masyarakat.
Kondisi tersebut memunculkan persoalan serius, bukan sekadar soal lambatnya pengerjaan proyek, melainkan juga menyangkut keselamatan pengguna jalan yang setiap hari melintasi kawasan tersebut.
Pantauan visual di lapangan menunjukkan sejumlah titik jalan yang sebelumnya beraspal telah dikeruk. Permukaan jalan kini dipenuhi material batu dan kerikil yang berserakan, sementara pengerjaan belum terlihat tuntas.
Situasi ini semakin mengkhawatirkan pada sejumlah titik tanjakan. Kondisi permukaan jalan yang belum kembali diaspal berpotensi membahayakan pengendara, terutama ketika jalan licin akibat hujan. Risiko tersebut perlu menjadi perhatian serius mengingat jalur ini digunakan masyarakat untuk beraktivitas sekaligus menjadi akses menuju destinasi wisata Kawah Wurung.
Kepala Desa Kalianyar, M. Fauzi, mengaku menerima banyak pertanyaan dari masyarakat terkait terhentinya pengerjaan jalan tersebut. Hingga kini, ia mengaku belum memperoleh penjelasan yang memadai untuk menjawab keresahan warga.
”Di jalur Margahayu–Curah Macan hingga ke Kawah Wurung, yang merupakan jalur utama PT MCG sekaligus jalur wisata, sempat ada pembangunan jalan. Namun, sudah hampir satu bulan kok terkesan dihentikan?” ujar Fauzi saat dikonfirmasi, Sabtu (24/10/2026).
Menurutnya, kondisi jalan yang belum terselesaikan, terutama di kawasan tanjakan, tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Selain mengganggu kenyamanan perjalanan, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kecelakaan apabila tidak segera ditangani.
“Saya khawatir jalur di tanjakan ini memakan korban. Kondisinya berpotensi licin bagi pengendara dan pengguna jalan. Apalagi, di jalur yang melintasi permukiman warga, aspalnya sudah digali, tetapi pengerjaannya justru terhenti dengan material berserakan,” ungkapnya.
Fauzi mengaku berada dalam posisi sulit karena masyarakat menjadikan pemerintah desa sebagai tempat meminta penjelasan. Ironisnya, ketidakjelasan informasi mengenai proyek tersebut justru memunculkan persepsi yang keliru di tengah warga.
Sebagian masyarakat, kata dia, bahkan mengira pembangunan jalan tersebut merupakan proyek pemerintah desa yang terhenti karena anggarannya telah habis.
Padahal, berdasarkan keterangan Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (BSBK) Bondowoso, proyek tersebut bersumber dari APBD Kabupaten Bondowoso melalui bonus produksi dari Medco Cahaya Geothermal.
“Ada sebagian warga yang berpikir itu proyek desa dan uangnya sudah habis. Jadi, ada hal yang perlu diluruskan untuk menghindari kesalahpahaman warga,” tegas Fauzi.
Ia berharap pihak terkait segera memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penyebab terhentinya pengerjaan, termasuk kepastian waktu penyelesaian proyek.
”Saya juga perlu penjelasan, apa yang menjadi kendala terhentinya pengerjaan dua ruas jalan tersebut. Setidaknya, saya bisa menjawab pertanyaan masyarakat,” tambahnya.
Anggaran Rp900 Juta, Mengapa Pengerjaan Terhenti?
Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala BSBK Bondowoso, Anshori, menjelaskan bahwa perbaikan jalan tersebut merupakan pekerjaan yang dibiayai melalui APBD Kabupaten Bondowoso, bersumber dari bonus produksi Medco Cahaya Geothermal.
Nilai anggaran proyek itu disebut mencapai sekitar Rp900 juta, dengan pekerjaan pada ruas Plalanganan–Curah Macan sepanjang kurang lebih 300 meter.
Anshori mengakui pengerjaan sempat terhenti. Namun, menurut penjelasannya, penghentian tersebut terjadi karena pihak penyedia jasa masih menunggu pasokan aspal dari Asphalt Mixing Plant (AMP).
“Kemarin sudah saya panggil penyedianya. Saya minta segera dikerjakan. AMP-nya mengambil aspal dari wilayah selatan, jadi masih menunggu aspal,” kata Anshori.
Penjelasan tersebut menjadi titik terang mengenai alasan terhentinya pengerjaan. Meski demikian, masyarakat masih membutuhkan kepastian kapan pekerjaan kembali dilanjutkan dan kapan jalan dapat diselesaikan secara menyeluruh.
Pasalnya, alasan menunggu pasokan material tidak serta-merta menghilangkan persoalan keselamatan yang dihadapi pengguna jalan selama proyek belum rampung.
Pihak pelaksana dan instansi terkait dituntut tidak hanya memastikan ketersediaan material, tetapi juga memperhatikan pengamanan lokasi pekerjaan, terutama pada titik tanjakan dan jalur yang berisiko membahayakan pengendara.
Kejelasan jadwal pengerjaan, kepastian penyelesaian, serta langkah pengamanan sementara menjadi hal penting yang perlu segera disampaikan kepada masyarakat.
Terlebih, jalan tersebut bukan sekadar akses penghubung antarkawasan, melainkan jalur aktivitas warga, operasional perusahaan panas bumi, dan akses wisata menuju Kawah Wurung yang memiliki nilai strategis bagi mobilitas serta perekonomian setempat.
Kini, masyarakat menunggu realisasi dari pernyataan bahwa proyek akan segera dilanjutkan. Jangan sampai keterlambatan pengerjaan terus berlarut, sementara pengguna jalan harus menanggung risiko akibat kondisi infrastruktur yang belum tuntas.
Publik berhak mendapatkan kejelasan mengenai penggunaan anggaran, progres pekerjaan, dan target penyelesaian proyek. Sebab, pembangunan jalan tidak cukup hanya dimulai dan dianggarkan, tetapi harus diselesaikan dengan baik, aman, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.(Nang)








