Bondowoso, BULETIN.CO.ID – Upaya mengatasi persoalan kekeringan di Kabupaten Bondowoso terus dilakukan. Kodim 0822 Bondowoso mengusulkan pembangunan 25 titik sumur bor di sejumlah wilayah yang terdampak kekurangan air bersih.
Pengajuan tersebut menjadi bagian dari program Bakti TNI AD yang diarahkan untuk membantu masyarakat menghadapi krisis air sekaligus mendukung kebutuhan air bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Dandim 0822 Bondowoso, Letkol Inf Prawito, mengatakan usulan 25 titik sumur bor tersebut telah disiapkan berdasarkan pemetaan kondisi di lapangan. Data awal diperoleh melalui survei yang dilakukan para Babinsa dan kemudian disesuaikan dengan peta wilayah yang mengalami kekeringan.
“Kami sudah mengajukan kembali 25 titik. Pengajuan ini didasarkan pada hasil survei jajaran Babinsa yang disesuaikan dengan data peta kekeringan di wilayah Bondowoso,” ujar Prawito saat dikonfirmasi, Selasa (16/9/2026).
Sebelumnya, program serupa telah menghasilkan dua sumur bor di Bondowoso, masing-masing berada di Kecamatan Grujugan dan Kecamatan Cermee. Sementara untuk 25 titik tambahan tersebut, Kodim masih menunggu persetujuan dari pemerintah pusat.
Selain mengupayakan solusi jangka panjang melalui pembangunan sumur bor, Kodim 0822 juga melakukan langkah darurat dengan mendistribusikan air bersih ke kawasan yang mengalami kekeringan.
Salah satu penyaluran dilakukan di Desa Purnama, Kecamatan Tegalampel, dengan menggunakan kendaraan tangki air milik Kodim 0822.
“Kita ada satu unit mobil,” kata Prawito.
Persoalan kekeringan di Bondowoso sendiri telah berlangsung sejak April 2026. Berdasarkan data BPBD Bondowoso, pemerintah daerah telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026.
Kekeringan tercatat melanda 20 dusun di 13 desa yang tersebar pada sembilan kecamatan. Wilayah terdampak mencakup Maesan, Klabang, Prajekan, Wringin, Tegalampel, Botolinggo, Tamankrocok, Curahdami, hingga Tlogosari.
Secara keseluruhan, kondisi tersebut berdampak terhadap sekitar 1.784 kepala keluarga atau 7.136 jiwa.
Kalaksa BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, mengatakan penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui distribusi air bersih. Pemerintah bersama sejumlah OPD teknis saat ini juga menyiapkan kajian untuk mencari solusi permanen.
Kajian tersebut melibatkan Dinas BSBK, Dinas Perkim Ciptaru, serta Baperinda. Fokusnya adalah mengidentifikasi wilayah yang secara konsisten mengalami kekeringan selama empat tahun terakhir, termasuk memetakan potensi sumber air yang dapat dimanfaatkan melalui pembangunan jaringan pipanisasi maupun pengeboran.
“Secara teknis, total penanganan permanen ini memerlukan pembiayaan sekitar Rp6,2 miliar,” jelas Kristianto.
Tak hanya persoalan air bersih, Kodim 0822 Bondowoso juga mengusulkan pembangunan dan perbaikan infrastruktur pendukung masyarakat melalui Program Jembatan Garuda Perintis. Salah satu usulan tersebut berada di wilayah Kecamatan Prajekan.
Di Bondowoso, program Jembatan Garuda Perintis telah direalisasikan di 12 lokasi wilayah terpencil. Dari jumlah tersebut, 10 jembatan telah selesai dan mulai dimanfaatkan masyarakat, sedangkan dua lainnya masih dalam tahap pengerjaan.
Sejumlah jembatan yang telah rampung di antaranya berada di Desa Gadingsari, Kecamatan Binakal; Desa Sukowiryo, Kecamatan Bondowoso; Desa Sumbersalak, Kecamatan Curahdami; serta Desa Gayam, Kecamatan Botolinggo.
Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah lintas sektor untuk memperkuat akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar, baik air bersih maupun konektivitas infrastruktur, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.(Nang)
Kodim 0822 Usulkan 25 Sumur Bor, Percepat Penanganan Krisis Air Bersih di Bondowoso
Nanang Ervandi3 min baca








