Scroll untuk baca artikel
Religi

Peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama, Dzurriyah Muassis NU Selenggarakan Napak Tilas

×

Peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama, Dzurriyah Muassis NU Selenggarakan Napak Tilas

Sebarkan artikel ini

Jombang, BULETIN.CO.ID – Dalam rangka memperingati 1 Abad Nahdlatul Ulama versi Masehi (1926–2026), Komite Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama menggelar Napak Tilas Isyarat Pendirian NU pada Ahad (4/1/2026). Kegiatan ini menelusuri jejak sejarah restu pendirian NU dari Bangkalan, Madura, hingga Jombang, Jawa Timur.

Napak tilas tersebut melibatkan dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan, dzurriyah KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo, serta dzurriyah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. Rangkaian perjalanan dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan dan berakhir di Pesantren Tebuireng Jombang.

Kegiatan ini mengilustrasikan peristiwa sejarah ketika KH As’ad Syamsul Arifin membawa isyarat dari Syaikhona Kholil Bangkalan berupa tongkat dan tasbih kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sebagai tanda restu pendirian Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Dzurriyah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Fahmi Amrullah Hadziq, mengatakan napak tilas ini menjadi momentum penting untuk meneladani perjuangan para muassis NU. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar peringatan satu abad NU, tetapi juga upaya menguatkan nilai spiritual dan tradisi pesantren yang menjadi fondasi NU.

Dalam rangkaian acara ini, replika tongkat dan tasbih sebagai simbol isyarat restu pendirian NU akan dibawa sepanjang perjalanan hingga Jombang. Setibanya di Jombang, replika tersebut akan dikirab dari Alun-alun Jombang menuju Pesantren Tebuireng bersama para dzurriyah muassis NU dan ribuan warga Nahdliyin.

Sebelum kirab dimulai, seluruh peserta akan berkumpul di Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang atau Pendopo Kabupaten Jombang. Dari lokasi tersebut, peserta berjalan kaki menuju Pesantren Tebuireng dengan jarak sekitar enam kilometer.

Sepanjang perjalanan, peserta melantunkan dzikir Asmaul Husna Ya Jabbar Ya Qahhar, kalimat thayyibah, serta Shalawat Badar secara serentak sebagai ikhtiar spiritual untuk mengenang sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.

Abin

**) IIkuti berita terbaru BULETIN.CO.ID di Google News klik disini dan jangan lupa di follow.