Bondowoso, BULETIN.CO.ID – Dugaan kelalaian dalam rantai produksi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sumberwringin semakin menguat. Sebanyak 77 siswa dan guru tumbang setelah mengonsumsi menu MBG yang disertai susu kedelai. Fakta baru menunjukkan adanya pergantian bahan secara sepihak yang lolos dari prosedur pengawasan.
Koordinator SPPG Kabupaten Bondowoso, Mila Afriana Agustina, membeberkan kondisi dapur produksi di hadapan Plt Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso Arif Sudibyo dan Camat Sumberwringin Probo Nugroho. Pemaparan dilakukan langsung di dapur SPPG Al Hidayah 3, Desa Rejoagung, lokasi pengolahan makanan untuk puluhan sekolah yang terdampak.
Mila menegaskan bahwa sebenarnya susu kedelai telah lama dihapus dari penggunaan rutin karena daya simpan yang pendek dan rentan rusak. Namun karena kesulitan mencari susu pabrikan dalam beberapa minggu terakhir, tim mengambil opsi menggunakan produk bermerek Dsoy, yang sebelumnya sudah diuji rasa dan dianggap aman. “Kesepakatannya, susu kedelai hanya dipakai sebulan sekali, dan itu sudah disampaikan ke grup ahli gizi,” jelasnya.
Masalah mulai menyeruak ketika susu yang digunakan pada hari kejadian bukan Dsoy, melainkan produk UMKM lokal yang tidak pernah diajukan dan tidak dilaporkan sama sekali kepada koordinator. “Saya baru tahu setelah laporan keracunan masuk pagi hari,” tegas Mila.
Padahal, SOP SPPG mewajibkan setiap pergantian bahan melalui konfirmasi dan persetujuan ahli gizi. Pelanggaran ini menjadi titik kritis dugaan kelalaian. Dari penelusuran internal, distribusi susu telah bermasalah sejak malam sebelumnya. Hingga pukul 03.00 WIB, bahan tersebut tak kunjung tiba.
“Ahli gizi sudah mengawasi sejak malam, lalu istirahat. Sesuai SOP, jika ada kejanggalan, staf dapur wajib melapor. Tapi ahli gizi tidak dibangunkan,” ungkap Mila, menandai adanya putus komunikasi yang fatal pada malam produksi.
Situasi makin janggal ketika pukul 07.00 WIB staf menemukan aroma hangus pada susu. Namun temuan itu terlambat, karena produk sudah telanjur didistribusikan ke sekolah-sekolah. “Produk itu juga baru pertama kali digunakan,” tambahnya.
SPPG telah menyerahkan seluruh kronologi dan temuan awal kepada Satgas dan Dinas Kesehatan Bondowoso. Pihaknya memilih menunggu hasil investigasi resmi terkait sumber pasti keracunan.
Seperti diberitakan sebelumnya, 77 siswa dan guru harus mendapatkan perawatan di Puskesmas Sumberwringin akibat dugaan keracunan MBG. Beruntung seluruh pasien telah dipulangkan pada Kamis (4/12) dalam kondisi membaik.(Nang)














