Bondowoso, BULETIN.CO.ID – Polemik rekrutmen tenaga kesehatan non-ASN di RSUD dr. Koesnadi Bondowoso terus bergulir dan memantik sorotan publik. Setelah sebelumnya dokter spesialis internal rumah sakit mempertanyakan tidak ditampilkannya nilai peserta formasi perawat, kini giliran peserta seleksi yang angkat bicara mengenai dugaan ketidaktransparanan sistem penerimaan.
Salah seorang peserta berinisial L mengungkapkan, nilai formasi perawat baru dimunculkan pada Jumat (9/5/2026) sore, setelah video pernyataan dokter spesialis Yusdeni Lanasakti viral di media sosial.
“Baru keluar kemarin pas pengumuman kelulusan. Baru dikeluarkan setelah viral,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat empat tahapan seleksi yang harus diikuti peserta, yakni seleksi administrasi, tes tulis, uji keterampilan (skill test), dan wawancara. Namun, selama tiga tahapan awal tersebut tidak ada peserta yang dinyatakan gugur.
Kondisi itu memunculkan tanda tanya di kalangan peserta, sebab seluruh peserta tetap mengikuti tahapan berikutnya tanpa adanya pengumuman nilai maupun sistem eliminasi.
“Ketiga tahap itu tidak ada nilai yang keluar. Yang ikut tes tetap itu saja. Mungkin yang gugur cuma yang tidak hadir. Tidak transparannya di situ,” katanya.
L juga mengungkapkan bahwa hasil tes tulis sebenarnya sempat muncul sesaat setelah ujian berlangsung. Namun nilai itu hanya tampil di layar komputer rumah sakit dan tidak dapat diakses kembali oleh peserta.
Akibatnya, para peserta tidak memiliki dokumentasi maupun rekam jejak nilai masing-masing sebagai bahan pembanding.
“Waktu itu kami fokus lanjut tes berikutnya, jadi tidak kepikiran protes,” imbuhnya.
Kecurigaan mulai muncul setelah pengumuman akhir diterbitkan. Sejumlah peserta disebut menemukan adanya perbedaan nilai yang dinilai janggal.
“Ada yang awalnya nilainya sekitar 30, tiba-tiba di pengumuman jadi 88. Kami sesama peserta sempat bingung, kok bisa berubah begitu,” ungkapnya.
Tak hanya soal nilai, peserta juga mulai ramai membicarakan dugaan praktik “uang masuk” dalam proses penerimaan tenaga perawat. Nilainya disebut bervariasi mulai Rp50 juta hingga Rp100 juta.
“Sekarang makin banyak yang buka suara soal tawaran uang titipan itu. Tapi saya tidak ikut karena keluarga memang tidak punya uang sebanyak itu,” katanya.
Ia menyebut isu tersebut sebenarnya sudah lama beredar di kalangan peserta.
“Itu sudah bukan rahasia umum lagi,” ujarnya.
Sementara itu, dokter spesialis RSUD dr. Koesnadi, Yusdeni Lanasakti, mengaku juga mempertanyakan mekanisme seleksi yang dinilai tidak lazim tersebut.
Menurutnya, jika seluruh peserta selalu dinyatakan lolos di setiap tahapan, maka fungsi penilaian menjadi tidak jelas.
“Kalau nilai keluar dan semuanya lulus, artinya nilainya bagus semua. Itu yang jadi pertanyaan,” katanya.
Berdasarkan dokumen pengumuman yang diterima media, terdapat dua file PDF terkait hasil seleksi. Dokumen pertama berupa Pengumuman Tes Kompetensi yang memuat dua kategori formasi perawat, yakni perawat ahli sebanyak 122 peserta dan perawat terampil sebanyak 96 peserta.
Namun pada dokumen tersebut, tidak terdapat rincian nilai peserta formasi perawat. Padahal, formasi lain menampilkan nilai kompetensi, afirmasi, hingga total skor secara lengkap.
Sedangkan pada dokumen kedua berupa Pengumuman Kelulusan Final, hanya peserta perawat yang dinyatakan lulus yang dicantumkan nilainya. Formasi perawat ahli yang lolos tercatat sebanyak 28 orang, sementara perawat terampil sebanyak 12 orang.
Adapun peserta yang tidak lolos tetap tidak mengetahui nilai mereka, baik pada pengumuman tes kompetensi maupun hasil akhir seleksi.(Nang)








