Scroll untuk baca artikel
Advertorial

Jadi Percontohan ASEAN Smart Cities Network, Banyuwangi Paparkan Kemajuan Program Smart Kampung di Kemendagri

×

Jadi Percontohan ASEAN Smart Cities Network, Banyuwangi Paparkan Kemajuan Program Smart Kampung di Kemendagri

Sebarkan artikel ini
rapat koordinasi persiapan The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting Philippines yang digelar di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

JAKARTA, BULETIN.CO.ID — Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mendapat undangan dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia untuk memaparkan perkembangan program Smart Kampung dalam rapat koordinasi persiapan The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting Philippines yang digelar di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Paparan tersebut menjadi bagian dari persiapan Indonesia dalam forum tahunan ASEAN Smart Cities Network yang akan berlangsung pada Juli mendatang. Banyuwangi disebut sebagai salah satu daerah yang dinilai berhasil menerapkan konsep smart city berbasis pemberdayaan masyarakat.

ASEAN Smart Cities Network merupakan jaringan kolaborasi antar kota di negara-negara anggota ASEAN yang bertujuan mendorong pembangunan kota cerdas yang inklusif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Banyuwangi sendiri ditetapkan sebagai Pilot Cities ASCN sejak 2018 bersama Makassar dan DKI Jakarta.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan pemerintah daerah terus melakukan transformasi menuju daerah cerdas yang tidak hanya berorientasi pada digitalisasi, tetapi juga pembangunan berkelanjutan yang inklusif.

“Banyuwangi terus melakukan progres menjadi daerah cerdas tidak hanya bertransformasi menjadi kota digital tapi juga menjadi kota cerdas yang inklusif, hijau, inovatif dan berkelanjutan,” kata Ipuk.

Menurut Ipuk, keikutsertaan Banyuwangi dalam ASEAN Smart Cities Network membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak, baik antar kota anggota ASEAN, sektor swasta, maupun mitra pembangunan internasional.

“Bagi Banyuwangi, ASCN tidak hanya penting sebagai forum berbagi pengalaman, tetapi juga sebagai pintu untuk membuka kolaborasi nyata baik bidang pelayanan publik, ekonomi digital, pengelolaan lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi baru untuk mendukung tata kelola kota cerdas. Terima kasih pada pemerintah pusat yang memberikan kesempatan ini pada Banyuwangi,” ujar Ipuk.

Sementara itu, Director Smart Cities and Communities Innovation Center ITB, Suhono Harso Supangkat, menilai Indonesia perlu meningkatkan konsep smart city dari sekadar berbasis teknologi menjadi sistem yang mampu menyelesaikan persoalan masyarakat secara nyata.

“Kita melihat Banyuwangi sebagai salah satu contohnya dimana daerah ini berhasil menerapkan Smart Kampung untuk meningkatkan pelayanan publik hingga mengubah sampah menjadi PAD melalui BLUD,” kata Suharso.

Ia juga mendorong agar Indonesia memimpin melalui praktik nyata dengan mendokumentasikan inovasi daerah dan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam forum ASCN.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Asisten Administrasi Umum sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Banyuwangi, Budi Santoso, menjelaskan bahwa Smart Kampung merupakan program pembangunan desa terintegrasi yang memadukan pemanfaatan teknologi informasi dengan penguatan ekonomi masyarakat dan pelayanan publik.

“Program Smart Kampung untuk memudahkan pelayanan publik hingga tingkat desa, yang dipadu dengan pemberdayaan. Ujungnya adalah meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi warga,” ujar Budi.

Menurutnya, implementasi smart city di Banyuwangi tidak berhenti pada digitalisasi layanan administrasi, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat ekonomi digital masyarakat, khususnya pelaku UMKM.

Pemkab Banyuwangi, lanjut Budi, juga terus mendorong lahirnya inovasi generasi muda melalui program Jagoan Banyuwangi dan kegiatan Hacking Day yang melibatkan komunitas digital serta inovator lokal.

Selain itu, pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat juga menjadi bagian dari strategi smart city Banyuwangi, termasuk melalui pengelolaan sampah terpadu hingga tingkat desa.

“Dengan begitu solusi digital dan permasalahan sosial tidak selalu datang dari pemerintah tetapi juga tumbuh dari masyarakat,” pungkas Budi.

**) IIkuti berita terbaru BULETIN.CO.ID di Google News klik disini dan jangan lupa di follow.
banner 400x130