Bondowoso, BULETIN.CO.ID – Penguatan ekonomi masyarakat menjadi salah satu fokus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso melalui penyelenggaraan Gebyar Ekonomi Santri (GES). Menggandeng pelaku usaha lokal, pesantren, hingga pemerintah daerah, kegiatan ini diarahkan menjadi ruang strategis untuk memperluas pemasaran produk sekaligus mendorong kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.
Digelar melalui Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) di Alun-Alun RBA Bondowoso, Rabu (28/10/2026), GES menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri. Sebanyak 130 stan dihadirkan untuk mempertemukan pelaku UMKM, pedagang kaki lima (PKL), organisasi perangkat daerah (OPD), serta lembaga dan badan otonom NU dalam satu ruang aktivitas ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan tersebut bukan sekadar menjadi ajang pameran produk lokal. Lebih dari itu, GES diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha, mempertemukan produsen dengan konsumen, serta mendorong tumbuhnya peluang usaha baru di Kabupaten Bondowoso.
Ketua PCNU Bondowoso, M. Syaeful Bahar, menegaskan bahwa besarnya potensi sosial warga Nahdliyin harus diimbangi dengan penguatan ekonomi yang nyata. Menurutnya, NU tidak hanya memiliki peran dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial, tetapi juga harus mampu mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi.
“Islam mengajarkan bahwa Allah mencintai umat yang kuat—bukan hanya kuat fisik, tetapi juga kuat secara ekonomi dan keilmuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengembangan ekonomi warga menjadi salah satu langkah penting untuk membangun masyarakat yang mandiri dan berdaya saing. Karena itu, PCNU Bondowoso melalui LPNU berupaya mendorong pelaku UMKM agar tidak berhenti pada aktivitas produksi, tetapi juga mampu mengembangkan usaha, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas jangkauan pemasaran.
PCNU Bondowoso juga membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah agar pemberdayaan UMKM dapat berlangsung secara berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan tidak hanya menghadirkan kegiatan seremonial, tetapi juga membuka jalan bagi pembinaan usaha dan penguatan kapasitas pelaku ekonomi masyarakat.
“Melalui Gebyar Ekonomi Santri, PCNU Bondowoso berharap UMKM warga Nahdliyin semakin berkembang, berdaya saing, dan mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat,” jelasnya.
130 Stan Jadi Ruang Promosi dan Peluang Usaha
Ketua Panitia GES, Muhasim, mengatakan kegiatan perdana ini direncanakan berlangsung selama enam hingga tujuh hari dengan beragam agenda yang menyasar kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan data panitia, terdapat 130 stan yang disiapkan. Rinciannya meliputi 85 stan UMKM dan PKL, 11 stan OPD Pemerintah Kabupaten Bondowoso, serta 24 stan lembaga dan badan otonom NU.
Pelaku usaha yang berpartisipasi berasal dari berbagai kelompok, mulai dari UMKM binaan NU, kalangan pesantren, lembaga swadaya, hingga paguyuban UMKM lokal.
Keberagaman peserta tersebut diharapkan menciptakan ruang interaksi ekonomi yang lebih luas. Bagi pelaku UMKM, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk, menjangkau konsumen baru, sekaligus menguji daya saing produk di tengah persaingan pasar.
“GES menghadirkan stan UMKM, PKL, OPD, serta lembaga NU untuk memperluas pemasaran produk, membuka peluang usaha, dan meningkatkan transaksi ekonomi masyarakat,” imbuh Muhasim.
Selain pameran produk, stan OPD Pemkab Bondowoso juga menghadirkan berbagai layanan langsung kepada masyarakat. Kehadiran pelayanan publik tersebut membuat GES tidak hanya berorientasi pada aktivitas perdagangan, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan pemerintah dengan warga.
Bebas Sampah Jadi Komitmen Penyelenggaraan
Di tengah upaya menggerakkan perekonomian masyarakat, panitia turut mengusung konsep acara bebas sampah. Komitmen ini menjadi salah satu perhatian utama dalam pelaksanaan GES, mengingat kegiatan yang menghadirkan banyak stan dan pengunjung berpotensi menghasilkan timbulan sampah.
Muhasim menegaskan, penyelenggara berupaya membangun kesadaran pengunjung agar menjaga kebersihan selama kegiatan berlangsung.
“Poin utama yang kami angkat adalah menjadikan acara ini bebas sampah selama kegiatan berlangsung. Kami terus mengedukasi masyarakat dan pengunjung agar Bondowoso Berseri benar-benar tercipta,” ucapnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, panitia melibatkan tim SARKAS (Sarana Prasarana) Pemuda Pancasila/SARKAS Plus serta badan otonom NU. Edukasi kebersihan dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan.
Tidak hanya mengandalkan imbauan, kegiatan ini juga diisi pelatihan ekonomi kreatif dan edukasi pengelolaan persampahan selama enam hari berturut-turut. Melalui agenda tersebut, peserta diharapkan memperoleh tambahan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha maupun pengelolaan lingkungan.
Konsep ini sekaligus menegaskan bahwa penguatan ekonomi masyarakat perlu berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.
Tari Kolosal 1.000 Siswa Meriahkan Gebyar Ekonomi Santri
Semarak GES juga diperkuat melalui panggung hiburan rakyat yang menampilkan seni dan budaya lokal. Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah pertunjukan tari kolosal Saman yang melibatkan 1.000 siswa-siswi At-Taqwa.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya memeriahkan peringatan Hari Santri sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya.
Dengan memadukan aktivitas ekonomi, pelayanan publik, edukasi lingkungan, dan pertunjukan budaya, GES diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Bondowoso.
Bagi PCNU Bondowoso, kegiatan ini menjadi langkah untuk memperkuat peran organisasi dalam mendorong kemandirian ekonomi warga. Namun, dampak jangka panjangnya diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, melainkan berlanjut melalui peningkatan kualitas usaha, perluasan jaringan pemasaran, dan tumbuhnya kolaborasi antarpelaku ekonomi.
Melalui penyelenggaraan Gebyar Ekonomi Santri, PCNU Bondowoso berharap UMKM lokal semakin berkembang dan mampu menjadi salah satu penggerak perekonomian daerah, sekaligus membangun kesadaran masyarakat bahwa pertumbuhan ekonomi dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan.(Nang)








