Scroll untuk baca artikel
Berita

Fiskal Surabaya Dinilai Sangat Kuat, PAD Masih Berpeluang Terus Digenjot

×

Fiskal Surabaya Dinilai Sangat Kuat, PAD Masih Berpeluang Terus Digenjot

Sebarkan artikel ini
Lutfil Hakim Ketua PWI Jawa Timur

Surabaya, BULETIN.CO.ID – Kemandirian fiskal Kota Surabaya dinilai berada pada level yang cukup tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia. Dengan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai sekitar 64 persen dari total pendapatan dalam APBD, Surabaya dinilai memiliki ruang yang besar untuk semakin mengurangi ketergantungan terhadap transfer pemerintah pusat.

‎Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, mengatakan posisi fiskal Surabaya tergolong kuat. Bahkan, besaran APBD Kota Surabaya disebut berada di atas APBD sejumlah provinsi di Indonesia.

‎Hal tersebut disampaikan Lutfil dalam dialog rutin pengurus PWI Jawa Timur, Senin (31/8/2026).

‎Menurutnya, rasio PAD terhadap total pendapatan daerah sekitar 64 persen menunjukkan bahwa tingkat kemandirian fiskal Surabaya jauh berada di atas rata-rata kabupaten/kota secara nasional yang masih berada di bawah 16 persen.

‎“Rasio 64 persen tergolong mandiri secara fiskal. Kota Surabaya masih memiliki peluang untuk meningkatkan rasio tersebut karena potensi ekonominya sangat besar,” ujar Lutfil.

‎Meski demikian, Surabaya masih menerima Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat sekitar 36 persen. Kondisi itu menunjukkan bahwa peluang meningkatkan porsi PAD masih terbuka lebar.

‎Lutfil mencontohkan Kabupaten Badung, Bali, yang memiliki rasio fiskal hingga sekitar 92 persen. Artinya, ketergantungan daerah tersebut terhadap TKD hanya sekitar 8 persen.

‎Ia menilai Surabaya memiliki modal ekonomi yang kuat untuk mengejar peningkatan rasio fiskal tersebut. Salah satunya terlihat dari besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Surabaya yang mencapai sekitar Rp900 triliun.

‎Besarnya aktivitas ekonomi tersebut, kata Lutfil, dapat menjadi pemicu pertumbuhan sumber-sumber pendapatan daerah, khususnya melalui penguatan sektor investasi, perdagangan, jasa, dan industri.

‎“Derivasi PDRB Kota Surabaya yang mencapai sekitar Rp900 triliun bisa menjadi trigger penambahan pendapatan positif bagi Kota Pahlawan,” jelasnya.

‎Lutfil juga menilai capaian fiskal Surabaya tidak terlepas dari arah kebijakan pemerintah daerah dalam membuka ruang investasi dan mengembangkan potensi ekonomi.

‎Ia menyebut kepemimpinan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memiliki peran dalam mendorong iklim investasi dan penguatan ekonomi daerah.

‎“Keberhasilan kekuatan fiskal Kota Surabaya tidak lepas dari kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi yang memiliki perspektif luas tentang investasi di daerah,” pungkasnya.(Nang)

**) IIkuti berita terbaru BULETIN.CO.ID di Google News klik disini dan jangan lupa di follow.
banner 400x130