Bondowoso, BULETIN.CO.ID – Seorang guru olahraga di SDN Kotakulon 1 Bondowoso dilaporkan ke polisi oleh wali murid, atas dugaan melakukan pemukulan terhadap seorang siswanya. Peristiwa itu disebut terjadi setelah siswa tersebut beberapa kali mengamuk hingga membuat suasana sekolah tidak kondusif.
Insiden bermula saat siswanya sebut saja Si Kohar (nama samaran) mengikuti kegiatan olahraga di Alun-alun RBA Ki Ronggo. Saat itu, Si Kohar terlibat pertengkaran dengan temannya dan tiba-tiba mengalami tantrum. Guru olahraga bernama Rolis Julian Afandi kemudian berupaya menenangkan dan membawa siswa tersebut kembali ke sekolah.
Menurut keterangan di lingkungan sekolah, upaya penanganan dilakukan sejumlah guru secara bergantian. Namun anak tersebut terus menangis dan mengamuk selama berjam-jam.
“Di alun-alun sudah sempat dilerai guru olahraga. Setelah dibawa ke sekolah, beberapa guru mencoba menenangkan,” ujar salah satu sumber di sekolah.
Situasi baru mereda sekitar menjelang siang. Setelah tenang, Ia sempat kembali masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Akan tetapi, tak lama kemudian siswa tersebut kembali mengamuk hingga masuk ke ruang kelas lain, termasuk kelas 2 tempat adiknya belajar. Kepanikan pun sempat terjadi karena sejumlah siswa berhamburan keluar kelas.
Pihak sekolah akhirnya kembali membawanya ke ruang guru hingga jam pelajaran usai.
Perilaku tantrum yang dilakukan siswa tersebut bukan kali pertama terjadi. Berdasarkan keterangan guru, siswa tersebut sudah beberapa kali mengalami ledakan emosi sejak duduk di bangku kelas 1 SD. Kondisi itu bahkan membuat sebagian wali murid merasa resah.
Sebelum kejadian terbaru ini, wali murid kelas 4A dikabarkan telah membuat petisi yang ditandatangani 39 orang tua siswa. Isi petisi meminta pihak sekolah segera mencarikan solusi karena perilaku AZ dinilai mengganggu proses belajar mengajar dan dikhawatirkan membahayakan siswa lain.
Wali Kelas 4A, Ahmad Dahlan, mengatakan pihak sekolah selama ini tetap berupaya mendampingi dan mendidik siswanya dengan sabar meski kondisi emosional siswa tersebut sulit diprediksi.
“Kalau mood-nya baik, dia bisa bergaul dengan teman-temannya. Tapi saat tantrum datang, itu tidak bisa diperkirakan,” ujarnya.
Menurutnya, saat tantrum muncul, Si Anak kerap berteriak, mengamuk hingga melontarkan kata-kata kasar kepada teman maupun guru. Kondisi itu membuat proses belajar di kelas beberapa kali terganggu karena guru harus lebih dulu menenangkan siswa tersebut sebelum pembelajaran kembali berjalan normal.
“Sekolah selama ini tetap berusaha mengayomi dan memberikan pembelajaran kepada semua siswa,” pungkasnya.(Nang)








