Malang, BULETIN.CO.ID – Pembangunan Kampus II Universitas Brawijaya (UB) di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, terus dikebut. Proyek pengembangan kawasan pendidikan seluas 28 hektare tersebut ditargetkan rampung pada Maret 2027, sehingga kegiatan penerimaan mahasiswa baru dan perkuliahan dapat dimulai pada tahun yang sama.
Bupati Malang, H. M. Sanusi bersama Sekretaris Daerah, Budiar meninjau langsung progres pembangunan kampus tersebut pada Rabu (21/10/2026) siang. Kunjungan ini dilakukan bersama Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, ketua Senat Akademik Universitas, Prof. Nuhfil Hanani serta Ketua Pelaksana Kholid Mawardi.
Peninjauan turut dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Malang beserta seluruh wakil ketua dan sejumlah ketua komisi. Kehadiran jajaran pemerintah daerah, legislatif, serta pimpinan UB tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan pembangunan fasilitas pendidikan tinggi itu berjalan sesuai rencana.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan melihat secara langsung kondisi pembangunan dua gedung baru yang dipersiapkan untuk menunjang kegiatan Fakultas Vokasi UB. Kedua bangunan itu menjadi fasilitas utama yang tengah diselesaikan sebelum kawasan kampus mulai difungsikan untuk kegiatan akademik.
Bupati Malang yang akrab disapa Abah Sanusi menyampaikan bahwa progres pembangunan telah mencapai sekitar 50 persen. Ia optimistis sisa pekerjaan dapat diselesaikan sesuai jadwal, sehingga Universitas Brawijaya bisa mulai menerima mahasiswa baru di kampus Kepanjen pada 2027.
“Syukur alhamdulillah, siang hari ini kita melakukan tinjau lokasi, baik dari Pemkab Malang, DPRD Kabupaten Malang bersama-sama Rektorat Universitas Brawijaya. Hari ini pembangunan sudah 50 persen, tinggal separuh lagi untuk Fakultas Vokasi. Insya Allah di bulan Maret 2027 sudah selesai, maka UB di tahun 2027 itu sudah menerima mahasiswa baru,” ujar Sanusi, pada Rabu (21/10/2026).
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran DPRD Kabupaten Malang yang telah memberikan dukungan terhadap pembangunan kampus tersebut. Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, legislatif, dan pihak universitas menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong realisasi proyek pendidikan tersebut.
“Pembangunan dua gedung ini terwujud juga berkat dukungan Ketua DPRD, Wakil Ketua dan Anggota DPRD Kabupaten Malang,” imbuhnya.
Pembangunan Kampus II UB di Dusun Tegaron, Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen, tidak hanya diarahkan untuk menambah fasilitas pendidikan tinggi. Kehadiran kawasan akademik tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang pengembangan ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar lokasi.
Dengan luas kawasan mencapai 28 hektare, kampus ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat pendidikan dan pengembangan keilmuan di Kabupaten Malang. Keberadaannya di Kepanjen diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi, sekaligus mendorong pertumbuhan berbagai sektor usaha yang berkaitan dengan aktivitas kampus.
Sanusi mengatakan, pembangunan tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang sempat diwarnai beragam tantangan. Namun, pemerintah daerah berharap pengembangan kawasan kampus dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa pemanfaatan lahan untuk kepentingan kampus merupakan bagian dari pengelolaan aset negara, bukan pembagian aset kepada pihak tertentu.
“Walaupun awalnya banyak halangan, rintangan dan ujian. Di Kabupaten Malang ini setiap ada perubahan selalu ada pro kontra. Ini aset negara dipakai negara, jadi bukan dibagi-bagi. Hanya pindah pengelolaan saja, yang sebelumnya pendelegasian kewenangan pengelolaan itu ada di Pemkab Malang, dan sekarang ini berpindah atau ada di kementerian,” jelasnya.
Menurut Sanusi, setelah melalui berbagai tahapan, pembangunan kini mulai menunjukkan hasil nyata. Ia memperkirakan keberadaan Kampus II UB nantinya dapat menampung sekitar 6.000 mahasiswa.
Jumlah mahasiswa tersebut dinilai berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi yang semakin dinamis. Mulai dari tumbuhnya usaha kuliner, tempat tinggal mahasiswa, jasa transportasi, hingga berbagai layanan pendukung kebutuhan akademik.
“Alhamdulillah hari ini sudah terwujud bangunan, yang diperkirakan ada 6 ribu mahasiswa akan ada di sini. Tentunya akan mendongkrak perkembangan ekonomi di wilayah sekitar Kampus II UB,” ungkapnya.
Dampak tersebut diharapkan tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar Desa Panggungrejo, tetapi juga menjangkau wilayah lain di Kecamatan Kepanjen dan kawasan Malang Selatan.
Aktivitas kampus yang melibatkan mahasiswa, tenaga pengajar, tenaga kependidikan, serta mitra industri berpeluang menciptakan perputaran ekonomi baru. Kondisi itu sekaligus membuka kesempatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan produk maupun layanan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan pendidikan.
Disiapkan untuk Vokasi dan Kolaborasi Industri
Kawasan Kampus II UB direncanakan memiliki dua zona utama, yakni Fakultas Vokasi dan Science Technopark (STP). Pembagian zona tersebut diarahkan untuk mendukung kegiatan pendidikan, pengembangan teknologi, serta kerja sama antara perguruan tinggi dengan dunia industri.
Fakultas Vokasi akan menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan berbasis keterampilan dan kompetensi kerja. Model pendidikan vokasi diharapkan mampu memperkuat hubungan antara pembelajaran di kampus dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Sementara itu, Science Technopark direncanakan dilengkapi mini laboratory factory atau fasilitas laboratorium yang dirancang untuk mendukung kegiatan praktik, pengembangan teknologi, serta kolaborasi industri.
Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi sivitas akademika untuk mengembangkan inovasi dan menguji penerapan ilmu pengetahuan secara lebih praktis. Kolaborasi dengan sektor industri juga berpotensi memperkuat kesiapan lulusan dalam menghadapi kebutuhan pasar kerja.
Dengan konsep pengembangan tersebut, Kampus II UB tidak hanya diarahkan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan perkuliahan, tetapi juga sebagai kawasan yang mendukung pengembangan keterampilan, penelitian terapan, dan inovasi.
Kawasan ini juga diproyeksikan dapat menampung kegiatan akademik tambahan sesuai kebutuhan pengembangan universitas pada masa mendatang.
Adapun nilai proyek pembangunan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp115 miliar. Besarnya investasi itu mencerminkan upaya pengembangan sarana pendidikan yang diharapkan memberikan manfaat dalam jangka panjang, baik bagi perguruan tinggi maupun masyarakat Kabupaten Malang.
Pemkab dan DPRD Kawal Penyelesaian Proyek
Pemerintah Kabupaten Malang bersama DPRD Kabupaten Malang berharap pembangunan Kampus II UB dapat diselesaikan tepat waktu. Penyelesaian dua gedung Fakultas Vokasi pada Maret 2027 menjadi salah satu tahapan penting sebelum kampus tersebut mulai menjalankan aktivitas akademik.
Peninjauan lapangan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi seluruh pihak untuk melihat perkembangan pekerjaan secara langsung dan memperkuat koordinasi dalam mendukung kelanjutan proyek.
Pemkab Malang menaruh harapan besar terhadap keberadaan kampus tersebut, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas kesempatan pendidikan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Apabila target penyelesaian dan operasional dapat direalisasikan sesuai rencana, Kampus II UB berpotensi menjadi salah satu penggerak baru perkembangan Kepanjen sebagai pusat aktivitas pendidikan di Kabupaten Malang.
Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, Universitas Brawijaya, dan dunia industri diharapkan terus terjaga agar pembangunan tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur semata, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata dalam bentuk peningkatan kualitas pendidikan, penguatan kompetensi tenaga kerja, dan terbukanya peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dengan target operasional pada 2027, penyelesaian pembangunan Kampus II UB kini menjadi perhatian bersama. Masyarakat pun menantikan realisasi kawasan pendidikan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Kabupaten Malang dalam pengembangan pendidikan tinggi dan pembangunan ekonomi regional.














