Blitar, BULETIN.CO.ID – Peringatan Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang perjalanan sejarah daerah. Prosesi Pisowanan Ageng juga menjadi pengingat bagi DPRD Kabupaten Blitar agar pembangunan tetap berpijak pada identitas, nilai budaya, dan kebutuhan masyarakat.
Pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Blitar mengikuti prosesi Pisowanan Ageng di Pendopo Ronggo Hadinegoro, Rabu (5/8/2026). Prosesi tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar.
Ketua DPRD Kabupaten Blitar Supriadi mengatakan, perjalanan panjang Kabupaten Blitar menyimpan nilai yang relevan untuk menjadi pijakan dalam menentukan arah pembangunan. Sejarah dan budaya, menurut dia, tidak seharusnya ditempatkan sebatas sebagai simbol dalam peringatan hari jadi.
“Pisowanan Ageng ini menjadi momentum untuk menghormati warisan budaya leluhur. Nilai kebersamaan dan gotong royong harus tetap menjadi bagian dalam menjalankan amanah rakyat,” kata Supriadi.
Ia menilai semangat tersebut penting diterapkan dalam penyusunan maupun pelaksanaan kebijakan daerah. Pembangunan tidak cukup hanya mengejar capaian fisik, tetapi juga harus menjawab kebutuhan masyarakat dan meningkatkan kualitas kehidupan warga.
Tema Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar, “Manggih Raharja, Blitar Kuncara”, dinilai sejalan dengan arah tersebut. Supriadi mengatakan makna kesejahteraan rakyat harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat.
Menurut dia, sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, pariwisata, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu mendapat perhatian dalam pembangunan. Infrastruktur tetap penting, tetapi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan ekonomi masyarakat.
DPRD Kabupaten Blitar, lanjut Supriadi, memiliki peran untuk memastikan arah kebijakan tersebut berjalan melalui tiga fungsi utama, yakni legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Ketiga fungsi itu menjadi instrumen DPRD untuk mengawal agar program pemerintah daerah tetap sesuai dengan kepentingan masyarakat.
“Rakyat sejahtera bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan melalui program kerja yang benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Supriadi juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam menjaga sejarah dan kebudayaan Blitar. Menurutnya, kemajuan daerah tidak berarti meninggalkan akar sejarah, melainkan menjadikan warisan tersebut sebagai modal untuk membangun Blitar yang lebih maju sekaligus tetap memiliki karakter dan identitas.(Adv/Imam)














