Bondowoso, BULETIN.CO.ID – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karanganyar, Tegalampel, Bondowoso mulai beroperasi sejak 2 Februari 2026. Hingga saat ini, SPPG Karanganyar telah mendistribusikan sebanyak 1.713 porsi makanan bergizi menuju 28 sekolah penerima manfaat.
Seperti hari ini, Selasa (24/2) SPPG Karanganyar mendistribusikan 1.713 makanan bergizi meliputi 631 porsi kecil dan 1.082 porsi besar. Setiap paket disusun dengan perhitungan gizi yang matang, dikemas secara higienis, lalu didistribusikan sesuai jadwal agar tiba di sekolah dalam kondisi segar. Prosesnya tidak hanya menuntut ketepatan waktu, tetapi juga ketelitian agar kandungan nutrisi tetap terjaga hingga dikonsumsi siswa.
Menu yang disajikan adalah roti, pisang, dan susu, dengan tambahan lauk kacang untuk porsi besar. Di balik komposisi itu, terdapat perhitungan kebutuhan energi sesuai kelompok usia. Porsi kecil mengandung 367,7 kkal energi, 12,5 gram protein, 7,5 gram lemak, serta 65,2 gram karbohidrat. Sementara porsi besar menghadirkan 544,4 kkal energi, 19,1 gram protein, 23 gram lemak, dan 70,7 gram karbohidrat. Kandungan tersebut dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan harian siswa agar lebih fokus dan bertenaga selama mengikuti proses belajar.
Di balik operasional program tersebut, Owner SPPG Karanganyar, Ali Hasan Mun’im, menegaskan komitmennya untuk menghadirkan menu MBG yang semakin berkualitas guna mengoptimalkan setiap rupiah yang dialokasikan harus benar-benar memberikan dampak nyata bagi tumbuh kembang anak.
Ali menegaskan bahwa program MBG bukan bersumber dari dana pendidikan, melainkan berasal dari hasil efisiensi belanja negara, terutama dengan menghemat anggaran yang dinilai kurang produktif. Efisiensi dilakukan melalui penghematan belanja kementerian, lembaga dan transfer ke daerah baik Pemprov maupun Kabupaten/Kota.
Menurutnya, MBG adalah bagian dari upaya besar mencegah stunting sekaligus mempersiapkan Generasi Emas 2045. Asupan nutrisi yang cukup dan seimbang menjadi fondasi utama dalam membentuk sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.
Ali Hasan Mun’im menaruh perhatian serius pada kualitas bahan baku. Ia memastikan setiap bahan yang digunakan SPPG Karanganyar dalam kondisi segar dan layak konsumsi. Proses produksi pun dijalankan dengan standar kebersihan yang ketat. Selain itu juga berupaya memberdayakan pelaku UMKM dan petani lokal sebagai pemasok bahan pangan, sehingga program ini turut menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
“Kedepan kami juga akan melayani kelompok B3. Hal ini menuntut kesiapan lebih besar, baik dari sisi manajemen distribusi maupun konsistensi mutu gizi. Karena ibu hamil, ibu menyusui dan balita harus diperhatikan betul asupan gizinya,” ujarnya.
Melalui langkah awal ini, tanbah Ali, SPPG Karanganyar juga menjadi bagian dari gerakan kolektif menekan angka stunting di daerah. Lebih dari sekadar program bantuan makanan, MBG menurutnya juga sebagai investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang kuat, sehat, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
“MBG merupakan pilar strategis pemerintah untuk menekan angka stunting dan membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menuju visi Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.(Nang)














