Scroll untuk baca artikel
Berita

Sumail Abdullah Ajak Masyarakat Bondowoso Aktif Rehabilitasi Hutan, Dorong Kelestarian Lingkungan dan Ekonomi Warga

×

Sumail Abdullah Ajak Masyarakat Bondowoso Aktif Rehabilitasi Hutan, Dorong Kelestarian Lingkungan dan Ekonomi Warga

Sebarkan artikel ini
Sumail Abdullah, Anggota Komisi IV DPR RI Saat menghadiri kegiatan Sosialisasi dan Bimtek Pelaksanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan di Bondowoso

Bondowoso, BULETIN.CO.ID – Upaya menjaga kelestarian hutan dan memulihkan lahan kritis membutuhkan keterlibatan langsung masyarakat. Hal tersebut menjadi perhatian Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Gerindra, Ir. H. Sumail Abdullah, yang mendorong masyarakat sekitar kawasan hutan mengambil peran aktif dalam program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL).
‎
‎Dorongan tersebut disampaikan Sumail saat menghadiri kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Rehabilitasi Hutan dan Lahan di Cafe Persahabatan, Kabupaten Bondowoso, Sabtu (7/11/2026).
‎
‎Dalam kegiatan tersebut, Sumail menegaskan bahwa rehabilitasi hutan tidak boleh hanya dipandang sebagai upaya penghijauan semata. Lebih dari itu, program tersebut harus mampu memberikan dampak nyata terhadap kelestarian ekosistem sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.
‎
‎Salah satu upaya yang didorong melalui program tersebut adalah pengembangan Kebun Bibit Rakyat (KBR). Setiap kelompok masyarakat direncanakan memperoleh sekitar 35 ribu bibit tanaman, baik jenis tanaman berkayu maupun tanaman buah.
‎
‎Bibit tersebut nantinya dikelola secara mandiri oleh kelompok penerima, mulai dari proses penyemaian, pemeliharaan hingga penanaman di lokasi yang membutuhkan rehabilitasi.
‎
‎”Melalui kegiatan ini, kami berharap tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga ekologi. Selain memperbaiki lingkungan, kebun bibit rakyat juga diharapkan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi lokal,” ujar Sumail.
‎
‎Tak hanya mendorong penghijauan, Sumail juga mengingatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, pengawasan dan perlindungan kawasan hutan tidak mungkin sepenuhnya dibebankan kepada petugas Kementerian Kehutanan.
‎
‎Kesadaran masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan, menjadi faktor penting untuk mencegah kerusakan lingkungan. Salah satunya dengan menghindari praktik pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran.
‎
‎”Jangan sampai kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar justru memicu kebakaran yang tidak terkendali. Hutan harus kita jaga bersama karena kerusakannya akan berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat,” tegasnya.
‎
‎Di sisi lain, Sumail turut menyoroti persoalan distribusi pupuk subsidi yang masih menjadi kendala bagi sebagian petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
‎
‎Ia mengungkapkan, masih terdapat petani yang belum mendapatkan alokasi pupuk subsidi lantaran belum tercatat dalam sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).
‎
‎Menurutnya, persoalan tersebut perlu segera ditindaklanjuti melalui pembaruan data dan sinkronisasi antarlembaga agar petani di sekitar kawasan hutan tidak kehilangan kesempatan memperoleh pupuk subsidi sesuai persyaratan yang berlaku.
‎
‎Selain akses pupuk, persoalan akses dan keberlanjutan pengelolaan lahan hutan juga menjadi perhatian. Sumail meminta agar aspirasi masyarakat tidak diabaikan dan perlu dibicarakan bersama pihak-pihak terkait, termasuk Perhutani, Kementerian Kehutanan, serta pemerintah daerah.
‎
‎Ia menilai, penyelesaian persoalan kehutanan membutuhkan komunikasi terbuka dan kerja sama lintas sektor. Jangan sampai kepentingan masyarakat justru terhambat akibat ego sektoral antarlembaga.
‎
‎”Keinginan masyarakat harus direspons terlebih dahulu, kemudian dipetakan dan didiskusikan untuk mencari solusi. Harapannya, masyarakat bisa hidup berdampingan dengan hutan, menjaga kelestariannya, sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi,” tuturnya.
‎
‎Sumail berharap program rehabilitasi hutan dan lahan tidak berhenti sebatas kegiatan sosialisasi maupun pembagian bibit. Ia mendorong adanya pendampingan dan keterlibatan berkelanjutan agar tanaman yang diberikan benar-benar tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang.
‎
‎Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus pelaku penggerak ekonomi di kawasan sekitar hutan.(Nang)

**) IIkuti berita terbaru BULETIN.CO.ID di Google News klik disini dan jangan lupa di follow.
banner 400x130